Inspiratif, Pemulung yang Kini Jadi Pengusaha Cokelat

Laznas BSM Umat - Pernah menjadi pemulung di usia muda, tidak membuat Latifrian Syah Usman Ali (23) patah semangat. Justru, dari kondisi itu, dia mampu bangkit dan membawa perubahan dalam hidupnya. Latif menceritakan, dirinya menjadi pemulung selepas dari Sekolah Menengah Atas (SMA), karena saat itu belum memiliki biaya untuk melanjutkan kuliah, dirinya melakoni profesi tersebut.

"Keluarga saya broken home, jadi pas selesai SMA itu saya mau dapat uang dari mana. Makanya saya mulung, untuk kehidupan sehari-hari. Tapi dari mulung saya jadi termotivasi untuk maju," ucap Latif saat mengunjungi kantor Laznas BSM Umat, beberapa waktu lalu.

Mahasiswa binaan Laznas BSM Umat yang tergabung dalam Islamic Sociopreneur Development Program (ISDP) ini mengungkapkan, dari rutinitas memulung itu dengan memanfaatkan waktu yang ada, dia mencoba-coba membuat suatu kuliner yang berbahan dasar cokelat.

Kata dia, bahan kakao atau cokelat ini didapat dari kebun milik keluarga besarnya. Dari situ, pria kelahiran 17 November 1995 ini mulai merintis minuman cokelatnya. "Hingga akhirnya menjadi minuman. Nah minuman ini saya jual ke sekitar dulu, teman-teman, keluarga. Respons mereka antusias dan ini yang memacu saya untuk terus memproduksi minuman tersebut," tuturnya.

Sampai akhirnya di tahun 2014 Latif mulai konsen untuk memfokuskan pada usaha cokelatnya itu. Selain itu, di tahun itu juga dia mulai menempuh pendidikan tingkat tingginya di Universitas Gadjah Mada (UGM). Di kampus ini dia terus melebarkan sayapnya untuk memasarkan produknya, hingga sebuah merek Wellook Chocolate berhasil yang ciptakan.

"Minuman cokelat premium khas Yogyakarta yang diolah dari buah kakao asli ini sudah pernah diekspor ke beberapa negara, seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam. Yang paling jauh ke Belanda, Belgia. Keunggulan dari produknya adalah minuman cokelatnya mengandung flavonoid yang baik untuk kesehatan," ungkap mahasiswa tingkat akhir Fakultas Teknologi Pertanian ini.

Alumnus SMA Negeri 4 Yogyakarta ini menyebutkan, saat ini pihaknya tengah membuka booth di Pekan Raya Jakarta (PRJ), dari 2 Juni - 12 Juni. Sementara sejauh ini omset yang didapatkan dari hasil usahanya sekira Rp80 juta per bulan, dengan penjualan per pieces antara Rp20-Rp30 ribu.

Saat usahanya sudah mengalami kemajuan, ternyata Latif tidak ingin berkembang sendiri. Dia melakukan sejumlah pelatihan kepada petani kakao di sekitarnya, agar tanaman kakao yang dikelola bisa menghasilkan produk yang unggul.

"Kita memberdayakan petani sekitar, kasih pelatihan dan share pengalaman tentang produksi buah kakao. Pelatihan di sekitar Yogyakarta," tutur pemilik rumah makan Kiwae ini.